H. Arhawi adalah Wakil Bupati Kabupaten Wakatobi periode lima tahun terakhir (2010-2015). Sebagai pendamping Bupati Hugua pada periode kedua, telah memiliki pengalaman pemerintahan yang memadai untuk mengendalikan Wakatobi ke depan, sebagai bupati tentunya.
Perpaduan pengalaman pemerintahan dengan latar belakang sebagai pengusaha sukses tidak diragukan bila kelak menjadi bupati. Berbagai gagasan untuk memajukan Wakatobi sebagai daerah yang dikenal dengan aneka potensi kelautan, yang di dalamnya ada pariwisata, sudah dalam benak Arhawi, tentunya. Berikut petikan wawancara khusus M Djufri Rachim dari SultraKini.com dengan Arhawi di Kendari akhir pekan lalu:
Apa motivasi Anda untuk mau menjadi bupati di Wakatobi?
Begini, sebetulnya kegiatan-kegiatan politik ini sudah lama kita lakukan. Saya selaku putra daerah yang selama ini hidup di Wangiwangi tentu banyak mengerti dan tahu roh pergerakan masyarakat Wakatobi, sehingga saya ingin buktikan bahwa bagaimana Wakatobi dapat kita kelola secara maksimal dengan berbagai potensinya yang ada.
Potensi apa saja yang Anda lihat di Wakatobi?
Potensi perikanan dan kelautan, potensi pariwisata bahari. Semua itu adalah kekuatan yang dimiliki Wakatobi dan membutuhkan sentuhan secara maksimal.
Sentuhan urgen apa yang sangat dibutuhkan, misalnya?
Katakan perjalanan pemerintahan kami dengan pak Bupati (Hugua, Red) selama empat tahun ini, sudah banyak melakukan banyak hal, mulai penataan pembangunan infrastruktur yang selama ini dibangun. Hanya memang tidak mungkin bisa tuntas dalam satu atau dua periode melainkan butuh proses yang panjang bagaimana Wakatobi dibangun.
Anda memiliki catatan pembangunan yang belum tuntas itu?
Ada cita-cita yang belum tuntas. Sebut saja RTRW yang dimiliki Wakatobi sejak tahun 2012, namun belum diikuti dengan master plan wilayah kota, padahal itu sangat fundamental untuk segera dilakukan karena pembangunan infrastruktur di daerah adalah mengacu pada master plan wilayah yang ada.
Ada yang terlupakan dari rencana tata ruang Wakatobi, dan menurut saya sangat bertentangan dengan cita-cita mempertahankan Wakatobi yang memiliki status cagar biosfer. Cagar biosfer itu didalamnya memanfaatkan lingkungan secara arif dan bijaksana, namun di dalamnya hari ini ada langkah yang bertentangan dengan harapan dan cita-cita kita.
Bisa dijelaskan secara detail, mungkin juga dengan contohnya?
Dalam RTRW Wakatobi, tidak ada satu titik pun yang menjelaskan adanya titik penambangan yang harus dilakukan tetapi kenyataannya hari ini semua material yang dibutuhkan untuk pembangunan infrastruktur, khususnya pembangunan jalan, rata-rata melalui kegiatan eksploitasi yang menurut hitungan saya itu bertentangan dengan cita-cita menjadikan Wakatobi sebagai pusat cagar biosfer.
Itu dari satu sisi RTRW yang perlu dibenahi, lalu bagaimana arah pariwisata Wakatobi menurut Anda?
Sudah sepuluh tahun Wakatobi mempromosikan pariwisata, namun menurut saya banyak hal yang perlu disempurnakan. Pariwisata ini inkludnya sangat banyak, selain kita memiliki potensi bawah laut yang sangat indah, maka ke depan perlu pembenahan infrastruktur pendukung. Itulah yang saya maksudkan RTRW yang harus diikuti master plan kota tadi. Kajiannya sederhana, ibukota Wakatobi harus dibangun infrastruktur yang menunjang pariwisata. Misalnya, pada malam hari pun masyarakat atau pengunjung bisa menikmati suasana alam Wakatobi yang tidak kalah indahnya dengan suasana bawah laut.
Bagaimana hubungannya dengan pemberdayaan masyarakat, idealnya ketika wisatawan banyak berkunjung maka masyarakat bisa menikmati hasilnya, seperti menjual aneka makanan, souvenir dan lainnya?
Inilah yang saya maksudkan pembangunan infrastruktur pariwisata yang perlu ditingkatkan. Dalam master plan kota, seharusnya sudah ada desain bahwa ketika orang datang di Wakatobi sudah harus disiapkan infrastruktur pembangunan jalan dari bandara ke titik penyeberangan terdekat ke pulau Hoga dan Tomia, itu sudah harus dibangun. Dalam master Plan itu ada titik-titik penghubung yang mendekatkan dengan satu pulau ke pulau lainnya, sehingga wisatawan bisa menjangkau banyak spot-spot penyelaman terindah yang ada di sejumlah tempat Wakatobi.
Ketika hal ini terbangun, maka masyarakat bisa dipastikan di setiap titik penyeberangan antar pulau tadi ada ruang bagi masyarakat bisa memanfaatkan untuk menjual potensi yang dimiliki. Misalnya, menjual ikan Sunu yang didesain bisa bertahan sampai 20 hari, serta aneka ciri khas lainnya sehingga bisa menjadi oleh-oleh wisatawan.
Masyarakat dunia sudah tahu bahwa Wakatobi salah satu tempat wisata bahari terindah. Itu berkat promosi pemerintah daerah selama ini. Bagaimana hal ini ke depan?
Ke depan keterlibatan masyarakat harus lebih kuat. Ada pemikiran bahwa di setiap pesisir pantai Wakatobi kita ciptakan sebagai tempat yang indah dan nyaman untuk bersantai menikmati keindahan alam laut Wakatobi.
Pariwisata yang sudah terpromosi sepuluh tahun ini, tidak mungkin kita tinggalkan melainkan dimaksimalkan. Wakatobi butuh konsultan pariwisata yang kuat, bagaimana membangun pariwisata Wakatobi itu seperti apa yang lebih baik.
Bagaimana dengan pengelolaan pariwisata yang sudah ada?
Saya sering bertemu beberapa investor pariwisata yang sudah lama masuk di Wakatobi, misalnya Lorenz harus dilibatkan untuk melihat kira-kira masih ada beberapa tempat yang memungkinkan dibangun lagi tempat dan fasilitas seperti dikelola Lorenz selama ini. Jadi peran pemerintah sebetulnya sebagai fasilitator investor untuk mempunyai hasrat besar membangun beberapa titik pariwisata di Wakatobi.
Hal apa lagi yang bisa dikembangkan untuk pariwisata di Wakatobi?
Kalau pembangunan pariwisata ini orientasinya di bawah laut, maka ke depan pengembangannya selain penataan infrastruktur yang dibangun juga ada kajian pengembangan kawasan wisata di luar pulau besar yang selama ini dikenal adalah pengembangan beberapa pulau-pulau kecil yang bisa diminati oleh wisatawan. Katakan di Pulau Oroho yang berhadapan dengan Pulau Hoga, ketika dikembangkan sebagai lokasi pariwisata yang akan berpisah dengan orang banyak maka sangat baik dikembangkan di masa yang akan datang.
Selain pariwisata bahari, Wakatobi mempunyai potensi kemaritiman yang lain. Kira-kira akan diarahkan ke mana ke depannya nanti?
Cita-cita besar untuk membangun Wakatobi sebagai kabupaten maritim, tidak terlepas dari letak geografis Wakatobi yang 97 persen adalah laut dan sisanya 3 persen daratan. Bahwa konsep kemaritiman ke depan mempunyai nilai manfaat besar terhadap kesejahteraan masyarakat Wakatobi yang 30 persen lebih hidupnya digantungkan di laut secara turun temurun. Selain itu, posisi strategi Wakatobi yang menghubungkan kawasan Timur dan Barat Indonesia, sehingga di dalamnya kita akan dorong Wakatobi sebagai salah satu titik poros maritim nasional yang akan disinggahi perjalanan dari Timur ke Barat dan dari Barat ke Timur.
Tadi disinggung masyarakat Wakatobi sebanyak 30 persen lebih menggantungkan hidupnya di laut, bagaimana konsep untuk mereka ke depan?
Mereka rata-rata adalah masyarakat pesisir yang memiliki keahlian bagaimana mencari ikan di laut. Ada fenomena bahwa mereka belum disentuh secara maksimal sehingga hanya menjadi penonton di wilayahnya sendiri. Artinya apa? Kalau mereka ini dibantu dengan rumpon maka mereka juga harus dibantu dengan kapal lingkar, dan kalau itu sudah dilakukan maka harus dipikirkan juga siapa yang akan membeli ikan hasil tangkapan mereka. Jadi konsep perikanan dan kelautan ini harus dilakukan secara komprehensif.
Bagaimana teknis dari semua itu nantinya?
Ketika konsep perikanan dan kelautan ini dibangun maka di dalamnya harus ada kekuatan yang kita miliki dan dapat dimanfaatkan seluas-luasnya oleh masyarakat. Kita butuh investor yang masuk ke Wakatobi untuk menampung hasil tangkapan masyarakat sehingga hitungan-hitungan ekonominya begini, katakan satu kapal nelayan dengan 10 orang ABK dalam satu malam mendapatkan 10 ton ikan dengan harga Rp9 ribu hingga Rp10 ribu maka bisa dihitung betapa besar pendapatan nelayan kita.
Selain diarahkan ke sektor perikanan tangkap laut dalam itu, juga di dalamnya ada pemanfaatan kawasan lingkungan pesisir sebagai budi daya pesisir. Selama ini kendalanya adalah keterbatasan bibit ikan, seperti kerapu dan jenis ikan lainnya. Sehingga ke depan pemerintah juga akan memfasilitasi ini, hingga akhirnya mereka bisa mandiri.
Wakatobi terdiri dari gugusan empat pulau besar, yakni Wangiwangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Adakah pemikiran untuk spesifikasi masing-masing pulau tersebut?
Memang betul, Kabupaten Wakatobi sudah harus memiliki detail tata ruang, karena kalau tidak maka wilayah daratan yang hanya tiga persen itu akan menjadi kumuh di masa yang datang. Ketika detail tata ruang akan kita bangun maka sudah bisa diclaster bahwa pulau Wangi-wangi akan dijadikan apa, Kaledupa untuk apa, demikian pula dengan Tomia dan Binongko. Kalau tidak maka akan ada ketimpangan yang sangat besar diantara empat pulau itu. Katakanlah Wangiwangi hari ini sebagai konsentrasi pusat pemerintahan dan perdagangan maka 70 hingga 80 persen perputaran uang ada di ibukota kabupaten, lalu kemudian Kaledupa, Tomia dan Binongko kita mau apakan, sehingga ke depan harus ada kajian supaya ada pemerataan. Misalnya pusat perikanan yang pas akan didudukan di mana di antara pulau-pulau besar itu. Misalnya kalau di Kaledupa dijadikan pusat perikanan maka bagaimana kajianya supaya masyarakat nelayan di tempat lain juga bisa menjangkaunya dengan muda, kalau Tomia sudah terkenal dengan tempat wisatanya Onemobaa maka harus dipikirkan untuk pengembangan pariwisata secara maksimal, demikian pula dengan Binongko yang juga kuat perikanannya. Tinggal kita lihat ke depan bagaimana kajiannya, yang jelas kekuatan perikanan dan kelautan sentralnya kita pusatkan di Wakatobi.
Oke, itu semua cita-cita pemerintahan ke depan, tapi bagaimana dengan dukungan birokrasi Anda rasakan selama ini?
Tentunya kekuatan birokrasi sangat kita butuhkan untuk mem-back up semua program yang akan kita bangun di masa yang akan datang.
Apa strategis untuk penguatan birokrasi itu?
Birokrasi kita harus rubah main set-nya, dari cara konsumtif menjadi produktif. Artinya semua pegawai diarahkan untuk bisa berinovasi dan berkreatif terhadap dua program unggulan yang akan kita bangun ke depan. Ketika mereka bekerja maksimal maka akan ada nilai tambah dari hasil pekerjaan itu. Dari segi pendapatan mereka akan bertambah, kemudian untuk jenjang karier dalam birokrasi yang akan datang akan diukur dari kerja-kerja profesional mereka.
Apakah selama ini birokrasi belum bekerja secara baik?
Menurut saya mereka sudah melaksanakan tugasnya dengan baik, tetapi di masa yang akan datang perlu sentuhan secara maksimal. Katakan, Kabupaten Wakatobi dengan APBD sebanyak Rp 600 miliar lebih seharusnya di daerah itu sudah ada kebijakan untuk memberikan kesejahteraan pada mereka (pegawai, Red), seperti TKD yang harus menjadi prioritas untuk diberikan pada seluruh birokrat yang ada, dan itu akan berimplikasi pada daya beli masyarakat lokal. Jadi hal ini juga akan menjadi kekuatan ekonomi lokal. (***)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar