Sudah Enam Orang Meninggal Diduga “Keracunan” Merkuri di Bombana
SULTRAKINI.COM: Setelah selama 7 tahun menderita, Dita (10), akhirnya meninggal dunia pada 31 Agustus 2015. Warga Desa Raurau itu disinyalir kuat terpapar merkuri (Hg) ketika awal ditemukannya tambang emas di Bombana, Sulawesi Tenggara, September 2008 silam. Saat itu puluhan ribu orang datang menambang secara liar. Banyak diantaranya menggunakan merkuri untuk mendapatkan biji-biji emas.
Dita, adalah gadis yang lahir secara normal. Namun mulai usia 2 tahun 8 bulan, sering mengalami kejang-kejang, mata terbalik, hampir setiap hari. Lalu mulai mengalami kesulitan berdiri dan berjalan. Otot-ototnya mulai menyusut (myelodistrophy) karena tidak bisa digerakkan lagi. Mulut mengeluarkan ekstra saliva (air liur berlebihan) dan tidak sensitif lagi, sehingga kalau makan, mulutnya harus diisi penuh-penuh, baru dia bisa merasakan lalu mengunyah. (Baca juga: Dita Sakit Karena Merkuri atau Kutukan Jin?)
Selama masa sakitnya, Dita, terus menerus mengerang-erang. Baru tenang setelah diberi sentuhan pijat halus oleh Kustin (43), ibunya. Pada hari menjelang ajal, Dita mengalami kejang-kejang lagi, kali ini lebih hebat sampai dia kehabisan tenaga. Senin sore itu kemudian, Dita melepas semua kesakitan yang dideritanya. Dita meninggal.
Yuyun Ismawati, Senior Advisor pada Bali Fokus Foundation, menceritakan kepada SultraKini.com bahwa sudah ada enam orang yang meninggal dunia, setelah kunjungan pertamanya di Bombana enam bulan lalu. “Dari 25 orang yang kami temukan (kunjungi), ada 6 orang yang sudah meninggal. Yang meninggal sejauh yang kami dapat pantau,” katanya.
Yuyun adalah kandidat PhD Medical Research - International Health, Ludwig-Maximillians University of Munich, Germany (2015-2018), sedangkan Bali Fokus merupakan LSM nirlaba yang meneliti pencemaran lingkungan di Bombana pada bulan Februari dan Maret 2015.
Penelitian Bali Fokus telah menemukan merkuri dalam beras, ikan, air dan tanah di Bombana pada tingkat 600 sampai 3.000 kali lebih tinggi dari standar aman Organisasi Kesehatan Dunia.
Yuyun menjelaskan, selain menemukan Dita yang terindikasi kuat “keracunan” merkuri, juga ada lima warga Bombana di tempat yang berbeda meninggal dunia dengan dugaan penyebab yang sama.
“Salah satu kasus yang kami temukan dengan indikasi dugaan keracunan Hg (merkuri) tinggi adalah pak Pere, 70. Pak Pere almarhum mengalami 'severe tremor' atau tremor hebat seperti 2 kasus orang dewasa yang kami temui di Cisitu, Kabupaten Lebak,” jelas Yuyun.
Pere meninggal pada April 2015. Dua bulan sebelum meninggal mantan Kepala Adat Moronene ini ditemui pihak Bali Fokus di gubuknya, sekitar Raurau. Anak? perempuan Pere, 35, juga ternyata meninggal sebulan kemudian. Keluhannya waktu itu adalah kulit kekeringan, sering kram perut, sakit perut dan masalah dengan pencernaan. “Tetapi kami tidak melakukan pengujian waktu itu karena terbatasnya waktu. Sehingga kami tidak memiliki data indikasi level dugaan intoksikasinya,” kata Yuyun.
Selain itu ditemukan pula bayi enam bulan bernama Agung dari Boepinang Poleang yang meninggal Maret 2015. Agung lahir dengan katarak (juvenile cataract), hernia, kelainan anggota tubuh, paru-paru mengandung cairan (sering sesak nafas) dan kulit kepala seperti lecet/berjerawat. Agung juga merasa kesakitan sehingga menangis secara terus-menerus, hanya jeda sebentar.
Saat kehamilan, usia kandungan 1 sampai dengan 8 bulan, sang ibu mendampingi suami di Padang Billah membakar emas di kios atau toko emas. Saat itu di beberapa lokasi pembakaran emas, konsentrasi merkuri dalam ruangan sekitar tempat pembakaran adalah antara 10,000 ngr/m3 sampai dengan 50,000 ngr/m3. Arahan WHO dan US Dept. Of Human Health, bila konsentrasi Hg (merkuri) di udara >10,000 ngr/m3, orang harus dievakuasi.
Korban meninggal lainnya adalah Fikri (2) dari Onggomate, meninggal April 2015.? Ibunya menikah-cerai lalu menikah lagi dengan penambang emas (dari 2 suku/etnis yang berbeda) dan mereka tinggal dari satu lokasi tambang ke lokasi lainnya. Sebelum meninggal, tangan dan kaki Fikri lemah.
Selain Dita, korban meninggal lainnya pada bulan Agustus 2015 adalah ibu Riama (35) dari Watuwatu, meninggal 15 Agustus 2015. Pinggang dan perut sakit, pembengkakan dan pengerasan hati (kemungkinan kanker hati), kulit kekuningan.? Sudah dibawa ke RS di Kendari, tapi disuruh pulang karena tidak bisa diobati lagi.
Keracunan merkuri dapat dialami seseorang apabila yang bersangkutan terpapar atau terpajan merkuri lewat udara yang dihirup, bersentuhan terus-menerus tanpa alat pelindung, dan ?lewat makanan. Paparan merkuri di udara dapat terefleksikan dalam urin, methyl-mercury yang dikonsumsi lewat ikan, beras, sayuran, terefleksikan pada rambut dan darah dan atau kuku.
Sekali merkuri dikeluarkan dari botol atau container/flask, sulit untuk dimasukkan kembali. Sekali merkuri masuk ke dalam tubuh manusia?, di sana dia akan menetap selamanya, sulit untuk dikeluarkan.
Perempuan atau ibu hamil yang terpapar/terpajan merkuri memiliki cara detox yang paling ampuh: dipindahkan ke jabang bayi dan ke anak-anak yang disusuinya. Pada studi WHO di atas (Gibb? and O'Learry, 2014) dan menurut Prof. Philippe Grandjean (Only One Chance, 2013) merkuri juga ditemukan dalam ASI. Hal ini menimbulkan dilema, apakah sebaiknya tetap memberikan ASI bermerkuri atau susu formula yang belum tentu sesuai untuk bayi.
Dalam kasus Minamata Disease (MD), penyakit seperti yang dialami Dita dan sejumlah warga Bombana dikenal juga sebagai penyakit itai-itai, yang artinya mengerang kesakitan. Para penderita MD mengalami sulit tidur dan kesakitan, hilang kepekaan atau gangguan syaraf.
Penyakit Minamata mulai dideteksi tahun 1954. Saat itu jumlah korban mati sekitar 2.900 orang, dan sekitar 25.000 orang memiliki gejala-gejala keracunan merkuri yang sama (lumpuh, temperamental, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, gangguan syaraf, speech disorder, dll).
Pada akhir tahun 2012, menjelang pertemuan negosiasi merkuri yang ke-3 di Chiba, Jepang (INC3), pemerintah Jepang melakukan inventarisasi lagi jumlah penderita MD. Tercatat angka baru, sekitar 80.000 orang.
Gejala MD terdeteksi sampai pada generasi ke-3 penderita Minamata Disease. Sebagian dari mereka hidup sampai lanjut usia tetapi dengan kelumpuhan dan gangguan kesehatan permanen.
Di Jepang, Chisso corporation yang menjadi pencemar, akhirnya mengaku bangkrut karena tidak sanggup membayar kompensasi dan membersihkan lahan tercemar di Teluk Minamata. Pembersihan Teluk Minamata memakan waktu 14 tahun dan biaya sekitar 350 juta USD.
Kompensasi diberikan hanya kepada korban yang sudah disertifikasi. Proses sertifikasi sangat rumit dan berbelit dengan pertanyaan yang sangat details. Hal ini membuat beberapa korban Minamata malas atau menyerah untuk tidak mengurus sertifikasi dan kompensasi. Beberapa dari mereka, gigih memperjuangkannya, bahkan sampai 10x bolak-balik dan memakan waktu lebih dari 10 tahun. (m djufri rachim)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar