Pemilihan gubernur Sulawesi Tenggara masih sekitar tiga tahun lagi (2018). Namun masyarakat Sultra telah disuguhkan sederet nama bakal calon gubernur melalui berbagai media massa --khususnya media sosial dan media luar ruang (baliho, spanduk, stiker, dll). Salah satu nama yang populer itu adalah Rusda Mahmud yang saat ini masih menjabat sebagai Bupati Kolaka Utara untuk periode kedua.
Rusda bahkan telah mempunyai konsep untuk ke mana mengarahkan provinsi ini kelak. Termasuk menjadikan kota Baubau, Kendari dan Kolaka sebagai megapolitan untuk “menangkis” serangan Masyarakat Ekonomi Asean. Hal itu terungkap melalui kesempatan wawancara khusus M Djufri Rachim dan Gugus Suryatman dari SultraKini.com kepada Rusda Mahmud di Mess Pemkab Kolut di Kendari, Selasa (28 Juli 2015). Berikut petikannya:Masyarakat Sulawesi Tenggara tiba-tiba melihat sejumlah baliho dan alat kampanye Anda sebagai calon Gubernur Sulawesi Tenggara ke depan, sebenarnya apa yang melatarbelakangi ini?
Pertama adalah amanah. Ada beberapa amanah dari beberapa daerah seperti Buton, Muna, Kendari, dan lainnya, dan itu saya siap karena saya tahu bahwa saya dilahirkan di Sulwesi Tenggara, saya dibesarkan di Sulawesi Tenggara, dan saya sudah mengelilingi semua kabupaten, jadi saya tahu ini Sulawesi Tenggara.
Artinya, apakah mengetahui Sultra itu bisa dikomparasikan dengan pengalaman memimpin Kolaka Utara selama ini?
Saya maksud tahu ini Sulawesi Tenggara bahwa saya tahu semua karakter, budaya dan apa-apa permasalahannya. Contohnya, di Kolaka Utara itu pola pembangunan saya namakan TDP yakni Trilogi Dimensi Pembangunan Kolaka Utara berkelanjutan, yakni pemerintahan, agama, dan ilmu. Itu saya nyatakan dengan simbol-simbol, supaya masyarakat bisa baca.
Bagaimana menjelaskan simbol-simbol dimaksud?
Simbolnya, pemerintahan di atas gunung, masjidnya di laut, dan perpustakaan di daratan. Ini simetris, segi tiga sama sisi. Artinya, ketiganya komponen ini yang harus menjadi dasar untuk berpijak melangkah membangun Kolaka Utara. Di mana pemerintahannya, mengayomi, melayani, berintegritas, dan agamanya bagus. Di Indonesia ini kan falsafahnya adalah Panca Sila yang mengharuskan semua warga negara beragama. Inilah yang kita perkuat sehingga masyarakat dan pemerintah itu berakhlak mulia. Kemudian mempunyai ilmu pengetahuan yang mumpuni. Saya yakin kalau ketiga komponen ini dimiliki pemerintah dan masyarakat maka Kolaka Utara akan sejahtera. Hal inilah yang akan saya bawa ke level lebih tinggi, di tingkat provinsi Sulawesi Tenggara, kelak.
Coba bayangkan kalau pemerintahnya mempunyai integritas, moral, agama, dan ilmu yang baik, maka pastilah akan membuat program yang bagus-bagus. Kalau punya ilmu kan tahu bahwa tatanan apa yang mengatakan bahwa kedaulatan tertinggi ada di tangan rakyat, berarti segalanya kan untuk rakyat.
Efek apa yang telah dirasakan oleh masyarakat Kolaka Utara selama Anda menjadi bupati kurang lebih delapan tahun ini?
Masyarakatnya sebahagian besar sudah sejahtera. Sebetulnya saya tidak tahu apa indikator kesejahteraan, tetapi kalau pemerintahan diukur dari PDRB dan income per kapita, tetapi kalau saya indikator kesejahteraan masyarakat itu adalah rasa syukur. Coba, kalau tiga dimensi TDP tadi jalan, pasti orang merasa bersyukur. Apalagi kalau kita sudah buatkan jalan misalnya, yang tadinya jalan kaki tiba-tiba jalannya bagus, apakah mereka tidak menyampaikan rasa syukur alhamdulillah.
Dari tiga dimensi pembangunan tadi, sebenarnya bagaimana implementasi rilnya, misalnya di sektor pendidikan apa yang sudah dilakukan?
Oh sudah terlalu banyak. Cuman kalau kita sampaikan satu-satu mungkin ....
Mungkin ada yang spesifik?
Kita mulai dari bagaimana membina usia dini. Kalau di birokrasi yang mempunyai potensi kita sekolahkan, dan juga banyak pelatihan dan bimtek. Kalau ada masyarakat Kolaka Utara yang berprestasi dan orang tuanya tidak mampu maka akan dibiayai seberapa pun biayanya. Saat ini ada yang kita sekolahkan ke China, karena di sanalah pendidikan kedokteran terbaik di dunia. Dan saya sampaikan kepada kepala dinas silakan umumkan di SMA-SMA dan kalau mereka mendaftar ke perguruan tinggi terbaik dan kalau lulus nanti pemerintah daerah yang biayai.
Itu dari dimensi ilmu, bagaimana dengan dimensi agama?
Saya tidak bisa hitung jumlah masjid yang kita bangun, termasuk pola swadaya. Ini juga sekaligus kita bangun masjid terbesar di dunia, tapi secara filosofi saja. Masjid itu dibangun dari tanah yang diambilkan di semua desa yang ada di Kolaka Utara, itulah secara filosofi tadi. Jadi setelah kita beton keliling, tanah timbunannya di ambil dari semua desa. Masjid yang dibangun secara swadaya ini mampu menampung 10 ribu jamaah.
Hal lain yang kita lakukan adalah mengirimkan penghafal Alquran ke Tangeran, kemudian setiap bulan Ramadhan diselenggarakan festival anak saleh, dan lain-lain.
Kalau kita tarik ke rana Sulawesi Tenggara, dari tiga dimensi tadi apa yang Anda lihat masih lemah?
Sebetulnya tinggal penjabarannya. Artinya bagaimana kita membangun jiwanya masyarakat supaya taat beragama, agama apapun. Kemudian kalau pemerintahnya mempunyai integritas yang baik pasti membuat program yang baik pula. Sebagai contoh program, karena saya belum membuat visi misi, namun menurut filosofi pemikiran pribadi saya, di Sulawesi Tenggara ini akan saya jadikan tiga kota metropolitan baru, yakni Kendari, Baubau, dan Kolaka.
Apa spesifikasi dari kota metropolitan itu?
Tentunya berbasis kota jasa dan perdagangan. Saat ini kita sudah masuk dalam Masyarakat Ekonomi Asean, dan ini kita harus siap. Kita tidak sadari bahwa di Sulawesi Tenggara ini berbatasan langsung dengan 15 negara sehingga untuk berhubungan dengan negara-negara itu tidak lagi harus melalui Jakarta, bisa melalui Baubau, Kendari, dan Kolaka. Sedangkan daerah lain kita akan bentuk sebagai Water front City yakni kota yang halaman depannya adalah laut karena berhadapan langsung dengan laut, seperti Wakatobi, Butur, Muna, dan lain-lain. Itu yang akan baru saya buatkan semacam visi-misi. Itu tidak susah kok.
Sesungguhnya apa arti kepemimpinan itu bagi Anda?
Begini apa yang kita pahami bahwa kedaulatan tertinggi itu di tangan rakyat maka pemimpin itu adalah mandor. Ibaratnya, jika Sulawesi Tenggara ini adalah sebuah kebun maka gubernur itu adalah mandor. Mandor itu bagaimana mengawasi teman-teman bekerja, bagaimana mensugesti teman-teman, bagaimana memotivasi teman-teman untuk berbuat memperbaiki Sulawesi Tenggara, supaya rakyatnya bisa bersyukur. Banyak kan masyarakat sekarang yang tidak bersyukur, karena pengertian saya terhadap kesejahteraan adalah rasa syukur bagi yang beragama.
Artinya penguatannya pada agama ya....
Agama, dan pemerintahannya harus bagus dan berintegritas. Kalau pemerintahnya tidak berintegritas maka tidak akan mungkin daerah itu bagus. Patokan saya dalam berbuat adalah bahwa sebaik-baiknya memimpin adalah yang mengutamakan kepentingan rakyatnya. Dan ini bisa dibuktikan di sana (Kolaka Utara, Red), rumah jabatan saya masih numpang, kalau hujan basa-basa, mobil dinas saya sudah dua periode dan sudah tiga bupati, syukur alhamdulillah saya belum ganti karena masih ada hal-hal lain yang lebih perlu sebagai skala prioritas. Di kantor bupati ruangan saya kecil saja, tetapi ruangan sekda di lantai tiga sangat luas dengan view yang sangat bagus, di dalamnya ada ruang rapat khusus, namun saya berpikiran bahwa kalau ruangan bupati bagus lama-lama hanya bisa tidur di dalam, tidak bisa bekerja, sementara sekda ini adalah pemimpin birokrasi tertinggi, sehingga mesin birokrasi ini harus diperbaiki, harus dijamin “oli”nya. Bupati itu hanya menyetir saja tetapi mesinnya ada di sekda.
Menarik gagasan-gagasan yang Anda sampaikan ini, namun kelihatannya belum tergambar penuh dalam baliho dan sebaran-sebaran lain di masyarakat Sultra. Bagaimana ini bisa dijelaskan?
Ini kan langkah awal. Ibaratnya naik anak tangga, ini baru tangga satu. Artinya bagaimana popularitas dulu, yang penting orang tahu dulu. Sesuai pembicaraan dengan pembawa amanah bahwa saya ini belum mau bekerja maksimal, saya tidak mau pergi khusus sosialisasi karena saya masih punya tugas dan tanggung jawab (sebagai bupati).
Dan kemudian tim saya yang keliling dan melaporkan kepada saya maka saya pun kemudian menetapkan naik ke tangga kedua, yakni atribut dan ini masih bersifat spontanitas. Yang spontanitas inilah juga yang akan menjadikan dasar untuk naik ke tangga ketiga, karena sudah tahu yang punya dedikasi, militansi dan loyalitas, dan itu akan berjalan enam bulan sudah bisa ditahu. (***)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar